Content on this page requires a newer version of Adobe Flash Player.

Get Adobe Flash player

08 Sep 2012 | Riau Expo 2012 Arena Purna MTQ   19 Jun 2012 | Pameran Nasional Pekanbaru Expo 2012 Gedung Juang Pekanbaru  
PERSPEKTIF TENUN SONGKET DAN MAKANAN TRADISIONAL KOTA PEKANBARU
PERAN BUDAYA MELAYU DAN KEWIRAUSAHAAN:
Jumat, 19 Agustus 2011 20:57 wib
DR. H. Zulkarnain, SE.,MM

E.    MAKANAN TRADISIONAL

Banyak sekali jenis makanan tradisional yang telah dibuat oleh masyarakat Melayu terdahulu, baik yang masih diketahui maupun tidak. Hampir tidak ditemukan resep-resep untuk pembuatan penganan tradisional Melayu. Hal ini ini hanya dilakukan secara turun temurun yang telah berumur berabad-abad. Berbagai hidangan dan makanan tradisional yang bernilai tinggi karena diolah dengan cara yang sangat hygienes, tanpa menggunakan bahan pengawet, penyedap, pewarna dan sebagainya. Hampir semua penganan menggunakan bahan-bahan alami sehingga penganan ini layak untuk dikonsumsi dan tidak mengganggu kesehatan.

Beberapa penganan tradisional kini telah menghiasi outlet diberbagai supermarket, minimarket dan toko-toko khusus makanan tradisional, toko-toko yang tersebar diseluruh Kota Pekanbaru dan bahkan hingga ke beberapa daerah dalam propinsi Riau, juga telah dibuka  outlet ”Mega Rasa” di Bandara Soekarno Hatta, Bandara Hang Nadim, Bandara Sultan Syarif Qasim II, di pelabuhan dan lain-lainnya sebagai oleh-oleh khas daerah. Makanan tradisional ini yang sangat populer diantaranya; Lempuk Durian dengan berbagai merek dan ukuran, Bolu Kemojo, Kue Bangkit, dan seterusnya.  Bolu Kemojo yang dikembangkan di Kelurahan Kampung Bandar-Kecamatan Senapelan, dibuat dengan cara tradisional dan bahan alami hingga tahan selama 1 minggu tanpa bahan pengawet. Makanan ini sering ditampilkan dalam ”Bazar Makanan Tradisional” baik lokal, nasional bahkan internasional. Demikian pula dengan Lempuk Durian yang sudah dikemas dalam ukuran yang menarik, termasuk Kue Bangkit dengan berbagai aneka rasa telah dibuat oleh pengusaha kecil yang jumlahnya tersebar diberbagai kecamatan dalam wilayah Kota Pekanbaru. Masih banyak jenis makanan lain yang dijual, namun tiga jenis yang penulis ungkapkan memiliki pasar yang cukup luas.

F.     KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA PEKANBARU

Pemerintah Kota   Pekanbaru, sebagaimana telah dicantumkan dalam Visi- Misi dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Kota Pekanbaru adalah mengembangkan ekonomi berbasis kerakyatan sebagai perwujudan dalam mengangkat ekonomi masyarakat lapis bawah. Perwujudan ini dijabarkan dalam program dan kegiatan di berbagai dinas terkait, seperti; Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Koperasi dan UKM, Dinas Sosial dan Pemakaman, Dinas Pertanian, Dinas Tenaga Kerja, dan Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Berencana. Keseluruhan instansi ini menjabarkan dalam Rencana Kerja Anggaran (RKA) setiap tahun baik dalam bentuk bantuan, pendidikan dan latihan, sosialisasi dan penyuluhan maupun pengikutsertaan dalam berbagai iven daerah dan nasional dan bentuk pembinaan lanjutan lainnnya.

Disamping itu juga pemerintah Kota Pekanbaru, juga menghimbau kepada pengusaha skala besar dalam hal pembiayaan dengan memanfaatkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) BUMN/BUMS/BUMD, pemasaran hasil produksi dan pembinaan kualitas produksi. Dengan kebijakan yang telah dilakukan banyak tumbuh pengusaha kecil dalam bidang pertenunan, makanan tradisional dan kerajinan rakyat dalam menghadapi persaingan pasar yang ketat terutama produk-produksi luar negeri dari negara tetangga.

G.    PENUTUP

Pengembangan budaya Melayu kini telah memasuki tahap yang menggembirakan karena dari segala aspek kehidupan masyarakat, budaya Melayu telah diterima sebagai budaya lokal dan nasional yang sudah menjadi tuan dinegerinya sendiri. Peran Dekranasda dan Pemerintah Kota Pekanbaru sangat strategis dalam mengembangkan Budaya Melayu sebagai bagian penting dalam pembangunan Kota Pekanbaru, karena telah dicantumkan dalam dokumen perencanaan sebagai bagian penting dan tak terpisahkan. Demikian dengan penggalian nilai-nilai budaya dalam berbagai aspek kehidupan dapat memberikan nilai tambah, disamping mempertahankan eksistensi nilai budaya juga memberikan aspek ekonomis yang dapat mensejahterakan masyarakat.

Pekanbaru, 16  Januari 2010

 

 

Referensi

Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Pekanbaru, Laporan Tahunan 2009, Pekanbaru.

Herman, Evi Mairoza,  2008, Gentakin (Gerakan Cinta Keluarga Miskin)-Perwujudan Ahlak Mulia, Pikiran-Tindakan, dan Terobosan, Meilfa Media Publishing, Jakarta.

Malik, Abdul, 2003,  Tenas Effendy, Hasan Junus dab Auzar Taher, Corak dan Ragi Tenun Melayu Riau, Penerbit Adicita, Yogyakarta.

 Meredith, Geoffrey G., Robert E. Nelson, Philip A. Neck, Kewirausahaan, Teori  dan Prakek,   1989, Seri Manajemen No. 07, Penerbit PT. Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta.

Zimmerer, Thomas W. Dan Norman M. Scarborough, 2002,  Pengantar Kewirausahaan dan Manajemen Bisnis Kecil, Penerbit Prenhallindo, Jakarta.

Zulkarnain, 2001, Membangun Ekonomi Rakyat, Persepsi Tentang Pemberdayaan Usaha Kecil dan Koperasi Di Riau, Penerbit UNRI Press, Pekanbaru.

Zulkarnain, 2003, Membangun Ekonomi Rakyat, Persepsi tentang Pemberdayaan Ekonomi Rakyat, Penerbit Adicita, Jogjakarta.

Zulkarnain, 2006, Kewirausahaan – Strategi Pemberdayaan UKM dan Penduduk Miskin, Penerbit Adicita, Yogyakarta.

 

Halaman: 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |
Ditampilkan: 7440 kali
Artikel Lainnya:

Statistic: 562,510 Page hits | 340,444 Visitors | 10 Online now