Hasil Analisis Pengukuran Data Stunting Kota Pekanbaru

Jumat, 31 Desember 2021 14:56

I. PENDAHULUAN

Status gizi di Indonesia terutama pada balita yang sekarang masih menjadi permasalahan di antaranya masalah gizi kurang, gizi buruk serta Stunting. Stunting atau biasa disebut dengan balita pendek merupakan indikasi buruknya status gizi dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). 

Periode 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan simpul kritis sebagai awal terjadinya pertumbuhan Stunting, yang sebaliknya berdampak jangka panjang hingga berulang dalam siklus kehidupan. Bila masalah ini bersifat kronis, maka akan mempengaruhi fungsi kognitif yakni tingkat kecerdasan yang rendah dan berdampak pada kualitas sumberdaya manusia. Pada kondisi berulang (dalam siklus kehidupan) maka anak yang mengalami kurang gizi diawal kehidupan (periode 1000 HPK) memiliki risiko penyakit tidak menular pada usia dewasa.

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya stunting pada balita dan faktor -faktor tersebut saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Menurut Unicef Framework ada 3 faktor utama penyebab stunting yaitu asupan makanan yang tidak seimbang, BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) dan riwayat penyakit. Intervensi yang paling menentukan untuk dapat mengurangi prevalensi stunting adalah intervensi yang dilakukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).   

Upaya penurunan stunting dilakukan melalui dua intervensi, yaitu intervensi gizi spesifik untuk mengatasi penyebab langsung dan intervensi gizi sensitif untuk mengatasi penyebab tidak langsung. Selain mengatasi penyebab tersebut, diperlukan faktor pendukung yang mencakup komitmen politik dan kebijakan untuk pelaksanaan, keterlibatan pemerintah dan lintas sektor, serta kapasitas untuk melaksanakan. Penurunan stunting memerlukan pendekatan yang menyeluruh, yang harus dimulai dari pemenuhan prasyarat pendukung.
II. GAMBARAN UMUM KOTA PEKANBARU

A. Luas Wilayah

Kota Pekanbaru memiliki luas wilayah 632,26 Km2 (Sumber: BPS Kota Pekanbaru Dalam Angka 2021) terletak antara 101014’ – 101034’ BT dan 0025’ – 0045’ LU, dengan batas wilayah administrasi sebagai berikut:

Sebelah Utara      : Berbatasan dengan Kabupaten Siak dan Kabupaten Kampar
Sebelah Selatan   : Berbatasan dengan Kabupaten Kampar dan KabupateN Pelalawan
Sebelah TimuR     : Berbatasan dengan Kabupaten Siak dan Kabupaten Pelalawan
Sebelah Barat       : Berbatasan dengan Kabupaten Kampar

Secara spasial, Pekanbaru memiliki lokasi yang sangat strategis karena berada di Jantung Pulau Sumatera yang dilalui ruas jalan Lintas Timur Sumatera, dan berfungsi sebagai pintu gerbang Indonesia Bagian Barat menuju Negara-Negara Asean dan juga sebagai kota transit yang menghubungkan kota-kota utama di pulau Sumatera. Keuntungan lokasional ini, harus dicermati sebagai potensi dan masalah yang harus diantisipasi agar pembangunan kota ke depan benar- benar dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, dan mereduksi kemungkinan dampak/pengaruh negatif yang akan ditimbulkan.

Secara administratif, terhitung sejak tahun 2021, Kota Pekanbaru terdiri dari 15 Kecamatan dan 83 Kelurahan. Pemekaran Kecamatan di Kota Pekanbaru berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pekanbaru Nomor 2 Tahun 2020 tentang Penataan Kecamatan, dilakukan penataan kecamatan dalam bentuk pembentukan kecamatan dan penyesuaian kecamatan. Pada Peraturan Daerah ini, jumlah kecamatan di Kota Pekanbaru yang semula berjumlah 12 kecamatan menjadi 15 Kecamatan yaitu Kecamatan Pekanbaru Kota, Kecamatan Payung Sekaki, Kecamatan Sukajadi, Kecamatan Senapelan, Kecamatan Limapuluh, Kecamatan Sail, Kecamatan Marpoyan Damai, Kecamatan Bukit Raya,Kecamatan Tenayan Raya,Kecamatan Bina Widya, Kecamatan Tuah Madani, Kecamatan Rumbai, Kecamatan Rumbai Barat, Kecamatan Rumbai Timur dan Kecamatan Kulim.

Gambaran mengenai wilayah administratif disajikan dalam bentuk Peta Wilayah Administrasi Kota Pekanbaru seperti gambar di bawah ini.

Peta Wilayah Administrasi Kota Pekanbaru


III. PERKEMBANGAN SEBARAN PREVALENSI STUNTING

  1. Gambaran Jumlah dan Prevalensi Stunting

Prevalensi stunting pada balita (0-59 bulan) di Kota Pekanbaru berdasarkan hasil Riskesdas tahun 2013 sebesar 34,7% dan mengalami penurunan di tahun 2018 menjadi 16%. Secara nasional, Prevalensi stunting di Provinsi Riau berdasarkan hasil Riskesdas pada tahun 2013 mencapai 36,6% dan mengalami penurunan menjadi 27,7% pada tahun 2018. Jika dilihat berdasarkan hasil SSGI tahun 2019, prevalensi stunting di Kota Pekanbaru sebesar 18,58% dan pada tahun 2021 mengalami penurunan mencapai 11,4%.

Prevalensi Balita Stunting Kota Pekanbaru

Sumber Data : Tahun 2013 - 2018 (RISKESDAS), Tahun 2019 - 2021 (SSGBI)

Berdasarkan hasil pemantauan pertumbuhan balita pada aplikasi e-PPGBM, pada tahun 2020 terdapat balita stunting sebanyak 869 dari 50.009 balita yang diukur tinggi badannya menurut umur (TB/U) dengan prevalensi sebesar 1,73% dan pada tahun 2021 jumlah balita stunting menurun sebanyak 303 dari 40.063 balita dengan prevalensi sebesar 0,76%. 
 

Jumlah dan Prevalensi Balita Stunting Kota Pekanbaru

Sumber Data : E-PPGBM 2020 dan 2021, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru

Sebaran prevalensi stunting berdasarkan kelompok umur dapat dilihat pada grafik dibawah ini.

Prevalensi Stunting Berdasarkan Kelompok Umur

Sumber Data : E-PPGBM 2020 dan 2021, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru

 

Berdasarkan hasil pemantauan pertumbuhan pada aplikasi e-PPGBM, pada tahun 2020 untuk kategori kelompok umur 0-23 bulan terdapat kasus stunting sebanyak 371 dari 21.152 anak baduta yang diukur tinggi badannya menurut umur (TB/U) dengan prevalensi sebesar 1,75% dan pada tahun 2021 jumlah kasus stunting menurun sebanyak 86 dari 10.841 anak baduta dengan prevalensi sebesar 0,76%. Kasus stunting juga menurun pada kategori kelompok umur 0-59 bulan pada tahun 2020 sebesar 1,74% menjadi 0,76% pada tahun 2021.  

Penurunan kasus stunting ini disebabkan adanya sinergitas program intervensi dari beberapa perangkat daerah terkait beserta adanya dukungan dari lintas sektor baik swasta maupun perguruan tinggi yang berorientasi pada lokus stunting dan penanganan yang dilakukan berdasarkan prioritas masalah yang harus ditangani segera.

Pemerintah Kota Pekanbaru menangani permasalahan stunting melalui perbaikan gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), antara lain dengan semakin gencarnya sosialisasi ASI-Eksklusif, pendidikan gizi untuk ibu hamil, pemberian TTD untuk ibu hamil, Inisiasi Menyusui Dini (IMD), Pemberian Makan pada Bayi dan Anak (PMBA), program penyehatan lingkungan, penyediaan sarana dan prasarana air bersih dan sanitasi.

Selain daripada itu, intervensi pada remaja juga dilakukan antara lain pemberian TTD pada remaja untuk mencegah terjadinya anemia, memberikan edukasi  kesehatan  seksual  dan  reproduksi  serta  gizi  pada remaja, dan melakukan pembinaan perkawinan terhadap usia remaja dan usia sekolah, Persiapan Kehidupan Berkeluarga bagi Remaja (PKBR) di Pusat Informasi Konseling (PIK) Remaja jalur sekolah dan masyarakat serta kelompok kegiatan Bina Keluarga Remaja (BKR) dalam rangka mencegah pernikahan usia muda yang bekerjasama dengan Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DisdaldukKB) dan Kemenag Kota Pekanbaru.  

Kota Pekanbaru terdiri dari 15 Kecamatan dan 83 Kelurahan. Pemekaran Kecamatan di Kota Pekanbaru mengakibatkan jumlah kecamatan yang semula berjumlah 12 kecamatan menjadi 15 Kecamatan. Adapun sebaran stunting berdasarkan wilayah Kota Pekanbaru yang terdiri dari 15 Kecamatan dapat digambarkan pada grafik dibawah ini.

Sebaran Stunting di Kecamatan Wilayah Kota Pekanbaru Tahun 2021

Sumber Data : e-PPGBM Tahun 2021, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru

Berdasarkan grafik di atas didapatkan data bahwa persentase kasus balita stunting tertinggi terdapat di Kecamatan Limapuluh sebanyak 76 kasus (7,29%), Kecamatan Payung Sekaki sebanyak 26 kasus (2%), dan Kecamatan Rumbai Barat sebanyak 30 kasus (1,91%). Sedangkan persentase stunting terendah terdapat di Kecamatan Kulim sebanyak 2 kasus (0,08%).

Adapun sebaran stunting berdasarkan wilayah Kota Pekanbaru yang terdiri dari 12 Kecamatan dapat digambarkan pada grafik dibawah ini.

Sebaran Stunting di Kecamatan Wilayah Kota Pekanbaru Tahun 2020

Sumber Data : E-PPGBM Tahun 2020, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru


Berdasarkan grafik di atas didapatkan data bahwa persentase kasus balita stunting tertinggi terdapat di Kecamatan Sail sebanyak 62 kasus (9,06%), Kecamatan Limapuluh sebanyak 101 kasus (7,18%), dan Kecamatan Tenayan Raya sebanyak 231 kasus (3,41%). Sedangkan persentase stunting terendah terdapat di Kecamatan Senapelan sebanyak 5 kasus (0,38%).

Berdasarkan Perwako No 134 tahun 2021 tentang Konvergensi Percepatan Pencegahan dan penurunan Stunting maka ditetapkan 15 Kelurahan dari 83 kelurahan yang ada di Kota Pekanbaru menjadi lokasi fokus Stunting pada tahun 2020/2021. Adapun jumlah balita stunting di masing-masing kelurahan lokus dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel. 1 Jumlah Balita Stunting di Kelurahan Lokus Tahun 2020

NO

KECAMATAN

PUSKESMAS

KELURAHAN

JUMLH BALITA DIUKUR

JUMLAH STUNTING

1

SAIL

SAIL

SUKA MULIA

302

35

2

TENAYAN RAYA

REJOSARI

MELEBUNG

77

8

3

LIMAPULUH

LIMAPULUH

TANJUNG RHU

724

63

4

TENAYAN RAYA

REJOSARI

BECAH LESUNG

351

29

5

LIMAPULUH

LIMAPULUH

PESISIR

384

28

6

TENAYAN RAYA

REJOSARI

REJOSARI

1025

69

7

RUMBAI

RUMBAI BUKIT

RUMBAI BUKIT

321

15

8

TENAYAN RAYA

REJOSARI

TUAH NEGERI

302

14

9

TENAYAN RAYA

REJOSARI

BAMBU KUNING

618

26

10

TENAYAN RAYA

REJOSARI

SIALANG SAKTI

1700

65

11

PAYUNG SEKAKI

PAYUNG SEKAKI

TIRTA SIAK

461

15

12

RUMBAI PESISIR

RUMBAI

TEBING TINGGI OKURA

495

12

13

BUKIT RAYA

HARAPAN RAYA

AIR DINGIN

1203

27

14

RUMBAI PESISIR

KARYA WANITA

LIMBUNGAN BARU

928

18

15

RUMBAI PESISIR

KARYA WANITA

LEMBAH SARI

903

12

TOTAL

9.794

436

Sumber Data : e-PPGBM Tahun 2020, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru


Tabel. 2 Jumlah Balita Stunting di Kelurahan Lokus Tahun 2021

NO

KECAMATAN

PUSKESMAS

KELURAHAN

JUMLH BALITA DIUKUR

JUMLAH STUNTING

1

SAIL

SAIL

SUKA MULIA

249

9

2

TENAYAN RAYA

REJOSARI

MELEBUNG

65

1

3

LIMAPULUH

LIMAPULUH

TANJUNG RHU

495

33

4

TENAYAN RAYA

REJOSARI

BECAH LESUNG

218

2

5

LIMAPULUH

LIMAPULUH

PESISIR

274

31

6

TENAYAN RAYA

REJOSARI

REJOSARI

667

2

7

RUMBAI

RUMBAI BUKIT

RUMBAI BUKIT

379

16

8

TENAYAN RAYA

REJOSARI

TUAH NEGERI

284

3

9

TENAYAN RAYA

REJOSARI

BAMBU KUNING

382

5

10

TENAYAN RAYA

REJOSARI

SIALANG SAKTI

924

10

11

PAYUNG SEKAKI

PAYUNG SEKAKI

TIRTA SIAK

363

6

12

RUMBAI PESISIR

RUMBAI

TEBING TINGGI OKURA

359

3

13

BUKIT RAYA

HARAPAN RAYA

AIR DINGIN

1108

5

14

RUMBAI PESISIR

KARYA WANITA

LIMBUNGAN BARU

907

4

15

RUMBAI PESISIR

KARYA WANITA

LEMBAH SARI

705

3

TOTAL

7.379

133

Sumber Data : e-PPGBM Tahun 2021, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru

Sebaran Stunting di Kelurahan Lokus Tahun 2020 dan Tahun 2021

Sumber Data : E-PPGBM 2020 dan 2021, Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru

Berdasarkan grafik diatas didapatkan data bahwa prevalensi stunting di Kelurahan Lokus tertinggi tahun 2020 terdapat di Kelurahan Suka Mulia (11,59%), Melebung (10,39%), dan Tanjung Rhu (8,70%). Sedangkan prevalensi stunting tertinggi tahun 2021 terdapat di Kelurahan Pesisir (11,31%), Tanjung Rhu (6,67%), dan Rumbai Bukit (4,22%). Prevalensi stunting yang terendah terdapat di Kelurahan Lembah Sari (1,33%) dan Rejosari (0,30%). Terdapat 1 Kelurahan yang mengalami kenaikan prevalensi stunting dari tahun 2020 ke tahun 2021 yaitu Kelurahan Pesisir.

Hal ini dikarenakan Kelurahan Pesisir berada di wilayah pinggiran sungai sehingga akses sanitasi dan PHBS yang kurang baik di tingkat rumah tangga serta lingkungan yang tidak bersih akan membuat balita mudah terkena penyakit infeksi yang berulang. Selain itu, faktor ekonomi masyarakat di daerah tersebut tergolong menengah kebawah ditambah lagi dengan kondisi pandemi Covid-19 yang mempengaruhi pemenuhan gizi masyarakat terutama balita berkurang sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan balita.

B. Faktor Determinan Meningkatnya Kejadian Stunting
Faktor determinan yang masih menjadi kendala dalam perbaikan status gizi (stunting) balita khususnya baduta, adalah akses air bersih, jamban, pemberian ASI Ekslusif dan pola asuh. Beberapa wilayah mengalami kesulitan terutama di wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS). Yang mana  hal tersebut selain dari segi ketersediaan jamban ataupun air bersih ada beberapa kelurahan yang masih sulit merubah perilaku masyarakatnya.  

Remaja Putri  telah mendapatkan intervensi berupa pemberian tablet tambah darah baik remaja yang ada disekolah maupun dipondok pesantren. Namun ada sebagian remaja putri yang masih belum teratur mengonsumsi TTD meskipun telah mendapatkannya karena kurangnya motivasi diri ataupun minat remaja putri tersebut untuk mengkonsumsi TTD tersebut. Disamping itu partisipasi masyarakat (ibu balita) untuk datang ke Posyandu masih rendah disebabkan banyak posyandu yang tutup sejak pandemi covid -19 sehingga kegiatan pemantauan tumbuh kembang balita tidak maksimal dan sebagian ibu balita tidak mau membawa balitanya lagi ke Posyandu karena imunisasi anaknya sudah lengkap. Masih ada balita yang belum mendapat imunisasi dasar secara lengkap. Faktor ekonomi keluarga yang menyebabkan kurangnya asupan gizi pada anak dan masih rendahnya kepesertaan JKN.

C.Perilaku Kunci Rumah Tangga 1000 HPK yang Masih Bermasalah

Stunting dapat dicegah melalui pengasuhan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) khususnya, di kelompok Bina Keluarga Balita (BKB). Seribu Hari Pertama Kehidupan merupakan pengasuhan balita dengan rincian yaitu 270 hari masa kehamilan, 730 hari setelah kelahiran sampai anak usia 2 tahun. Ini merupakan metode emas bagi pertumbuhan fisik dan perkembangan otak sang buah hati.

Perilaku kunci Rumah tangga 1000 HPK yang masih bermasalah di Kota Pekanbaru adalah :

    • Masih ada sebagian Ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya ke tenaga kesehatan
    • Masih kurangnya pengetahuan Ibu hamil tentang makanan gizi seimbang untuk Ibu hamil
    • Belum semua ibu hamil minum secara rutin tablet tambah darah (TTD) selama kehamilan (90 tablet)
    • Rendahnya pemberian Asi Eksklusif bayi 0-6 bulan
    • Masihditemukan Bayi 0-6 bulan diberikan makanan    tambahan selain ASI
    • Masih kurangnya pengetahuan ibu balita tentang gizi seimbang.
    • Perilaku masyarakat tidak mau membawa anaknya ke Posyandu, setelah balita mendapat imunisasi lengkap
Dari data diatas masih dibutuhkan intervensi dan pembinaan yang lebih intensif. Program pendampingan berupa pemberian makanan tambahan bagi Ibu Hamil Kurang Energi Kronis dan balita usia 6-24 bulan serta program pemberian TTD bagi remaja putri disekolah diharapkan dapat mencegah  terjadinya stunting di masyarakat.

D. Kelompok Sasaran Berisiko
Kelompok sasaran beresiko antara lain Remaja Putri, Calon Pengantin, Ibu hamil, Ibu Nifas, Ibu Menyusui, Balita serta masyarakat yang kurang mampu (daya beli pangan kurang) perlu mendapatkan perhatian khusus terhadap pencegahan terjadinya stunting. Oleh karena itu Dinas Kesehatan sangat mengharapkan dukungan dari berbagai sektor untuk menangani dan mencegah bertambahnya balita stunting di Kota Pekanbaru.